Tampilkan postingan dengan label kualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kualitas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 September 2010

Korelasi Peningkatan Mutu Serta Pengorbanan Biaya

Mutu, atau lebih dikenal dengan kualitas memiliki peran penting dalam suatu aktivitas perekonomian, baik itu sektor produk maupun jasa.

Mutu sebagai suatu bentuk standarisasi yang secara tidak langsung ditetapkan oleh pelanggan menjadi tolak ukur kesuksesan penyedia. Hampir seluruh konsumen menempatkan kualitas daalam proses pengambilan keputusan pembelian mereka setelah faktor harga (cost). Hal ini dapat diartikan bahwa strategi pemasaran para penyedia haruslah difokuskan pada mutu produk mereka. Persaingan diantara masing-masing jenis usaha tidaklah lagi berkutat pada persaingan harga melainkan telah bergeser kepada bagaimana menyediakan produk/jasa yang berkualitas sehingga konsumen memilih untuk membeli/menggunakan produk mereka di banding produk pesaing.

Lalu bagaimanakah korelasi antara peningkatan mutu produk terhadap biaya/cost yang harus dikorbankan/dikeluarkan perusahaan?

Peningkatan mutu tentu saja bukanlah suatu hal yang kecil yang bisa dilakukan hanya dengan mengorbankan sedikit waktu, sedikit tenaga dan sedikit biaya. Perencanaan serta implementasi peningkatan mutu merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk jangka panjang. Artinya aktivitas peningkatan mutu membutuhkan waktu yang lama hingga para pelanggan bisa benar-benar menikmati produk yang bermutu tersebut. Perencanaan peningkatan mutu membutuhkan sumbang saran dari para pelanggan (biasa disebut harapan pelanggan) untuk mengetahui serta menyusun standarisasi mutu yang diinginkan pelanggan mengenai produk yang dibuat. Penelitian pendahuluan diperlukan guna mendapatkan informasi tersebut, sebelum pada akhirnya para produsen bisa merancang dan mengimplementasikan mutu tersebut pada produk yang mereka buat. Karena itulah pengembangan mutu membutuhkan pengorbanan waktu dan biaya yang cukup besar. Hal inilah yang terkadang menjadi pertimbangan utama bagi suatu produsen yang memang tidak memfokuskan mutu sebagai sales value mereka. Sehingga ketika mereka mengetahui bahwa produk mereka tidak begitu laku di pasaran, dan mereka mulai mengetahui bahwa produk mereka tidak memenuhi harapan dari para pengguna produk tersebut dan konsumen lebih memilih produk sejenis yang diciptakan perusahaan pesaing, dan akhirnya mereka menyimpulkan bahwa produk mereka “tidak bermutu”.

Terkadang para produsen berfikir dua kali, tiga kali, bahkan seribu kali untuk menerapkan quality focus pada produk mereka, terkait besarnya investasi yang harus dikeluarkan. Hal ini tentu saja akan menjadi boomerang bagi perusahaan itu sendiri, karena produk yang tidak berkualitas akan kalah bersaing di pasaran.

Beberapa dari produsen tersebut mengatakan “peningkatan kualitas akan berdampak pada peningkatan biaya produksi, dan tentu saja hal itu akan meningkatkan harga jual produk tersebut. Dan ini akan menjadi kelemahan produk kami di mata konsumen, karena produk kami dianggap mahal”.

Perlu diketahui bahwa pandangan tersebut adalah benar-benar salah…dan itu merupakan konsep produksi tradisional, yang harusnya sudah tidak lagi digunakan dalam dunia produksi.

Peningkatan kualitas produk sudah barang tentu menjadi nilai tambah bagi produk/jasa yang kita jual. Ingat, konsumen tidak lagi menempatkan harga di posisi pertama dalam pertimbangan pengambilan keputusan pembelian mereka, melainkan kualitas. Oleh karena itu, pada beberapa kasta konsumen akan berani membayar lebih mahal guna mendapatkan dan menikmati produk yang dijual. Sebagai contoh, para eksekutif muda akan berani membayar lebih mahal untuk tiket kelas eksekutif bagi penerbangan bisnis mereka. Tentu saja mereka ingin menikmati kenyamanan penerbangan mereka seperti bangku yang lebih luas, penawaran makanan yang lebih variatif, dan banyak lagi. Selain itu, produk berkualitas akan bisa menjaga hubungan baik antara produsen dan konsumen, dalam hal ini penggunaan kembali produk tersebut. Konsumen yang sudah merasa puas terhadap produ/pelayanan yang mereka anggap telah memenuhi harapan mereka sudah barang tentu akan menggunakan lagi produk tersebut dan enggan untuk mencoba produk yang lain. Hal ini akan menjadikan pelanggan tersebut pelanggan yang loyal, selama produsen tetap menjaga kualitas produk mereka. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah diperlukan lebih banyak biaya untuk mendapatkan pelanggan baru dibandingkan untuk mempertahankan pelanggan lama, masuk akal bukan.

Ingatlah, peningkatan mutu bukan berarti penurunan keuntungan penjualan. Peningkatan kualitas justru dapat meningkatkan penjualan. Pengorbanan biaya yang besar bukanlah tak terbayar. Dengan produk yang berkualitas akan banyak konsumen-konsumen baru, akan bertambah para pelanggan loyal, maka menurunlah biaya promosi/pemasaran, dan sudah barang tentu, peningkatan keuntungan!

Oleh karena itu, sudah saatnya Anda menjual kualitas!!!

Kamis, 26 Maret 2009

Membangun Sistem Informasi Kualitas Jasa

Organisasi-organisasi yang terkenal memberikan kualitas jasa yang sangat tinggi akan mahir mendengarkan pelanggan dan karyawan garis depan mereka. Untuk melakukan hal ini secara efektif, perusahaan perlu menciptakan proses penelitian jasa berkesinambungan yang akan menyediakan data yang berguna dan terbaru bagi para manajer. Sebagaimana dikatakan Leonard Berry dalam On Great Service, “Perusahaan perlu membangun system informasi kualitas jasa, tidak hanya sekedar melakukan studi. Melakukan studi kualitas jasa dapat disamakan dengan mengambil foto. Pemahaman yang lebih mendalam dan pengertian tentang pola perubahan tersebut berasa dari serangkaian pengambilan foto berkesinambungan tentang berbagai pokok persoalan dari banyak sudut.

Berry merekomendasikan agar survey yang berkelanjutan seharusnya dilakukan dengan menggunakan portofolio teknik riset yang membentuk system informasi kualitas jasa (service quality information system) suatu perusahaan. Pendekatan yang memungkinkan mencakup:

* Survei transaksi

* Survei pasar menyeluruh

* Belanja misterius

* Survey pelanggan baru, pelanggan hilang, dan pelanggan sebelumnya

* Wawancara kelompok fokus (focus group)

* Laporan lapangan karyawan

Survei transaksi

Di desain untuk mengukur kepuasan dan persepsi pelanggan tentang pengalaman jasa pada saat masih segar dalam ingatan pelanggan tersebut. Survey dilakukan langsung setelah penggunaan jasa atu beberapa hari sesudahnya. Alat bantu yang digunakan biasanya berbentuk lembaran kuesioner.

Contoh, Kabara foodcourt memberikan pelanggannya diskon untuk biaya makan apabila mereka mengisi kuesioner tentang kepuasan pelanggan yang disertakan pada setiap tagihan.

Survei pasar menyeluruh

Bertujuan mengukur penilaian total pelanggan (total customer value) terhadap kualitas jasa. Berbagai informasi dapat dikumpulkan, termasuk harapan dan persepsi pelanggan terhadap jasa, tingkat kepentingan relatif dimensi-dimensi jasa yang dibahas sebelumnya, dan maksud perilaku pelanggan untuk membeli kembali dan memberikan rekomendasi positif tentang jasa perusahaan kepada orang lain.

Perusahaan juga dapat menggunakan survey pasar menyeluruh untuk mengukur kualitas jasa pesaing. Namun, diperlukan pengambilan sample dari pelanggan maupun bukan pelanggan untuk mendapatkan gambaran akurat tentang posisi persaingan mereka.

Suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari pelanggan yaitu SERVQUAL.

Servqual merupakan skala terstandarisasi tentang dimensi-dimensi kualitas yang paling penting. Skala servqual mencakup lima dimensi:

* Keberwujudan

* Kehandalan

* Daya tanggap

* Jaminan, dan

* Empati

Dan dari setiap dimensi terdapat beberapa butir yang diukur dengan skala tujuh poin mulai dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju

Belanja misterius

Pembeli misterius adalah orang yang disewa perusahaan untuk bertindak sebagai pelanggan biasa dengan tujuan mengetahui interaksi transaksi yang terjadi antara pelanggan dan karyawan penjualnya. Keuntungan menggunakan cara ini adalah memberikan feed back tentang kinerja masing-masing karyawan jasa. Informasi ini dapat digunakan untuk memberikan imbalan atas kinerja yang bagus, dan juga mengidentifikasikan karyawan yang perlu diberikan pelatihan atau pendamping tambahan.

Survey Pelanggan Baru, Pelanggan Hilang, dan Pelanggan Sebelumnya

Bertanya kepada pelanggan sebelumnya mengapa mereka berpindah dapat sangat membantu, kalau informasinya menenangkan hati untuk melihat bidang-bidang di mana kekurangan kualitas jasa suatu perusahaan. Survey yang memonitor pola penurunan dapat mengidentifikasi mengapa pelanggan makin sedikit membeli jasa dan juga dapat memprediksi penurunan pelanggan yang akan datang. Pelanggan baru juga dapat memberikan informasi tentang apa yang memikat mereka pada penyedia jasa tertentu, termasuk reputasi dan komunikasi pemasaran perusahaan. Jadi, ketiga survey ini sangat berguna dalam melihat efek kualitas jasa terhadap keuntungan perusahaan.

Survey pelanggan baru, berkurang, dan sebelumnya paling mudah dilakukan dalam bisnis di mana pelanggan menggunakan jasa secara teratur dan transaksi penjualan dicatat untuk setiap pelanggan. Contohnya, took swalayan safeway dapat melakukan survey seperti ini dengan menggunakan kartu “keanggotaan” baru yang memantau riwayat belanja pelanggan secara elektronik dari waktu ke waktu. Karenadata kontak pelanggan diperoleh pada saat pelanggan melakukan permohonan kartu tersebut, safeway dapat dengan mudah menghubungi pelanggan yang baru, yang berkurang, dan yang sebelumnya. Perusahaan juga dapat menggunakan kartu anggota untuk memberikan diskon khusus dan potongan tunai kepada pelanggannya yang setia.

Wawancara kelompok fokus (focus group)

Aktivitas ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada sekelompok wakil pelanggan tentang masalah atau topic khusus. Wawancara yang biasanya berlangsung beberapa jam, dilakukan oleh moderator terlatih, yang mengarahkan peserta biasanya enam sampai sepuluh orang, agar tetap terfokus pada topic yang dibahas. Kelompok focus sangat berguna untuk mendapatkan informasi mendalam tentang persoalan-persoalan jasa dan mengidentifikasi solusi yang memungkinkan. Cara ini juga dapat digunakan untuk mencari criteria yang digunakan pelanggan untuk menilai kualitas jasa atau mendapatkan umpan balik tentang gagasan-gagasan jasa yang baru. Namun, data ini seharusnya tidak diproyeksikan pada seluruh segmen pasar, tanpa riset kuantitatif tambahan.

Laporan Lapangan Karyawan

Walaupun kebanyakan data kualitas jasa dikumpulkan dari pelanggan, karyawan-karyawan suatu perusahaan juga dapat menjadi narasumber yang berharga untuk data kualitatif.

Laporan lapangan karyawan adalah metode sistematis untuk mengethui apa yang dipelajari karyawan dari interaksi mereka dengan pelanggan serta dari pengamatan langsung mereka terhadap perilaku pelanggan. Data dapat dikumpulkan dari karyawan melalui survey tertulis, wawancara telepon, atau kelompok focus. Karyawan dapat juga mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama pertemuan jasa.

Contohnya, karyawan di tempat praktik dokter gigi dapat diminta mencatat reaksi pasien terhadap semua aspek jasa tersebut, termasuk lingkungan fisik, peralatan baru, atau interaksi pribadi.

Senin, 16 Februari 2009

Pengendalian Kualitas

Pengertian kualitas adalah suatu pengendalian kualitas bagi produk dimana produk itu mampu memenuhi kebutuhan atau keinginan para konsumen. Kualitas suatu produk merupakan salah satu kunci bagi kemajuan dan kesuksesan suatu perusahaan. Perusahaan yang mempertahankan akan kualitas produk itu akan lebih bermanfaat bagi pengurangan biaya produksi dan akan sukses dalam pemasaran dan diterima oleh konsumen serta pada akhimya akan meningkatkan keuntungan bagi perusahaan yang memproduksinya.

Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas menurut Sritomo Wigujosoebroto (252 : 2003 ) merupakan suatu sistem verifikasi dan penjagaan / perawatan dari suatu tingkatan / derajat kualitas pproduk atau proses yang di kehendaki dengan cara perencanaan yang seksama , pemakaian peralatan yang sesuai , inspeksi yang terus menerus , serta tindakan korektif bilamana diperlukan. Dengan demikian hasil yang diperoleh dengan kegiatan pegendalian kualitas benar‑benar bisa memenuhi standar yang telah direncanakan.

Tujuan diadakannya pengendalian kualitas adalah menyediakan suatu alat baru yang membuat pemeriksaan proses menjadi lebih efektif (Eugene L. Grant & Richard S. Leavenworth, 1993, 28), dan untuk mendapatkan gambaran bahwa spesifikasi produk yang telah ditetapkan apakah masih sesuai dengan kualitas standar atau perlu pengecekan terhadap kesalahan‑kesalahan yang terjadi, sehingga dapat menurunkan kualitas produk tersebut.

Beberapa pendukung dalam rangka pengendalian kualitas

1. Lembar formulir pencatatan

Lembar formulir pencatatan menggambarkan formulir yang digunakan untuk mencatat data bagian kendali untuk bagian yang ditolak. Penggunaan lembar formulir pencatatan bertujuan untuk :

a. Menyusun data secara otomatis, sehingga data itu dapat digunakan dengan mudah.

b. Memudahkan proses pengumpulan data, terutama untuk mengetahui bagaimana suatu masalah sering terjadi. Penggunaan lembaran formulir pencatatan untuk membantu mentabulasikan banyaknya kejadian dan suatu masalah tertentu.

c. Mengumpulkan informasi mengenai letak sesuaian tentang yang diamati dimasukkan ke dalam lembar catatan dengan memperlihatkan butir‑butir yang diperiksa dan jumlah butiran yang ditolak.

2. Diagram Pareto

Diagram pareto digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi tipe‑tipe yang tak sesuai. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh graft batang pertarna yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah. Serta ditempatkan pada sisi paling kanan, pada dasarnya diagram pareto dapat digunakan sebagi alat interpretasi untuk :

  1. Untuk menghitung persentase frekuensi untuk setiap kategori dan frekuensi komulatif.
  2. Memfokuskan perhatian pada berita kritis dan penting melalui pembuatan rangking terhadap masalah-masalah atau penyebab dalam bentuk yang signifikan.
  3. Menentukan frekuensi relatif dan urutan penting masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.



3. Diagram sebab akibat

Diagram sebab akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara sebab akibat. Diagram sebab akibat dipergunakan untuk menunjukan faktor

faktor penyebab dan karakteristik. Kualitas (akibat) yang disebabkan oleb faktor, penyebab itu, pada dasarnya diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan‑kebutuban berikut :

  1. Membantu mengidentifikasi penyebab dari suatu masalah.
  2. Mencari sebab‑sebabnya dan mengambil tindakan korektif
  3. Membantu dalam penyelidikan atau pencarian factor lebih lanjut.
  4. Menyeleksi metode analisis untuk penyelesaian masalah.

    4. Peta Kontrol

    Peta kontrol merupakan salah satu alat terpenting dalam pengendalian kualitas, adalah bagan kendali Shewart, dinamakan demikian karena teknik ini dikembangkan oleh Dr. Walter Andrew Shewart pada tahun 1920 sewaktu ia bekerja pada Bell Telephone Laboratories.

    Peta kontrol adalah suatu grafik perbandingan data performans proses, untuk menghitung bibit kontrol yang digambarkan sebagai garis limit pada peta tersebut.

    Peta kontrol berfungsi untuk mengendalikan proses produksi, mempelajari kecendrungan proses serta, mempelajari hubungannya dengan spesifikasi.

    Pada dasarnya setiap peta kontrol memiliki:

  5. Garis tengah, yang biasa dinotasikan sebagai Center Line (CL)
  6. Sepasang batas kontrol yang membatasi suatu proses terkendali atau tidak terkendali, dimana suatu batas kontrol ditempatkan di atas garis tengah yang dikenal sebagai batas kendali atas (BKA) = Upper Control Limit (UCL), dan yang satunya dibawah garis tengah disebut batas kendali bawah (BKB) = Lower Control Limit (LCL)

c. Tebaran nitai‑nilai karakteristik kualitas yang menggambarkan keadaan dari proses. Jika semua nilai‑nilai yang ditebarkan pada peta itu berada didalam batas batas kontrol tanpa memperlihatkan kecendrungan tertentu, maka proses berlangsung dianggap sebagai berada dalam keadaan terkontrol secara statistika. Namun jika nflai‑nilai yang ditebarkan pada peta itu di luar batas kontrol, maka proses yang berlangsung dianggap di luar batas kontrol, sehingga perlu diambil tindakan korektif untuk memperbaiki proses yang ada.